Posted in Manajemen

Manajemen Laba

Manajemen laba (earnings management) adalah upaya memanfaatkan (perubahan) ketentuan perundang-undangan perpajakan, standar atau metode akuntansi untuk memperoleh penghematan atau meminimisasi beban pajak. Perubahan perundang-undangan perpajakan, standar atau metode akuntansi, pada khsusnya seharusnya memotivasi manajemen untuk “me-manage” penghasilan kena pajaknya, dengan cara menunda atau sebaliknya mempercepat pengakuan pendapatan dan/ atau biaya; jika manajemen tetap konsisten dengan upayanya untuk: (i) memperoleh penghematan atau meminimisasi beban pajaknya; (ii) membuat keseimbangan antara laba akuntansi dengan laba tunainya; (iii) memaksi-mumkannilai perusahaanatau memaksimisasi kemampuan perusahaan untuk mendistribusikan dividen. Pada bagian ini dihasa beberapa cara atau teknik yang dapat digunakan oleh manajemen dalam melakukan manajemen laba (earnings management).

1 Menunda atau Mempercepat Pengakuan Pendapatan dan Biaya

Undang-undang Pajak Penghasilan memang menentukan jenis-jenis penghasilan sebagai obyek pajak, namun terhadap pada umumnya penghasilan yang dinyatakan sbagai obyek pajak tidak secara spesifik mengatur saat pengakuan pendapatan dan biaya terkait. Dalam beberapa hal, Wajib-Pajak mempunyai keleluasaan di dalam membuat kebijakan-kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan penentuan saat pengakuan pendapatan dan biaya; meskipun kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan harus diterapkan secara taat asas atau konsisten dari tahun ke tahun. Dihadapkan pada perubahan peraturan atau ketentuan perundang-undangan perpajakan yang akan diberlakukan, bisa jadi terbuka peluang bagi manajemenuntuk melakukan upaya-upaya untuk menunda atau mempercepat pengakuan pendapatan dan biaya, tanpa harus mengorbankan asas konsistensi. Sudah barang tentu, sifat dan jenis usaha perusahaan,sifat dan jenis-jenis penghasilan sebagai obyek pajak, serta sifat dan jenis-jenis biaya, sifat dan luas usaha, metode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan akan sangat mempengaruhi besar-kecilnya peluang dan kemampuan untuk bisa melakukan percepatan atau penundaan pengakuan pendapatan dan biaya.

Wajib Pajak Dengan Sistem Pembukuan Berdasar Stelsel Akrual

Dalam kaitannya dengan pengakuan dan pengukuran untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak dalam suatu tahun pajak berbasis akrual, efek dari penerapan basis akrual itu sendiri dapat dibedakan ke dalam dua kategori sebagai berikut:

(1) Current Accruals, yaitu efek akrual yang berdampak signifikan pada Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang meliputi pos-pos transitoris & antisipasi aktif, seperti: pendapatan akan diterima (accrued receivables), biaya dibayar dimuka (prepaid expenses); dan pos-pos transitoris & antisipasi pasif, seperti: pendapatan diterima dimuka (unearned revenue), biaya masih harus dibayar (accrued payables). Dikatakan berdampak signifikan, karena Wajib-Pajak yang menggunakan sistem pembukuan berbasis kas (cash basis accounting) tidak mempertimbangkan keberadaan atau efek pos-pos transitoris & antisipasi di dalam menentukan jumlah Penghasilan Kena Pajaknya.

(2) Non-current Accruals, yaitu efek akrual yang tidak berdampak signifikan pada Penghasilan Kena Pajak (PKP), seperti misalnya: persediaan, penyusutan & amortisasi, dan deplesi harta tetap yang mempunyai masa manfaat terbatas. Dikatakan tidak berdampak signifikan, karena Wajib-Pajak yang menggunakan sistem pembukuan berbasis kas (cash basis accounting) harus tetap mempertimbangkan keberadaan atau efek dari perubahan persediaan, penyusutan harta tetap berwujud & amortisasi harta tak berwujud serta deplesi aktiva sumber alam yang mempunyai masa manfaat terbatas; dengan cara yang sama dengan cara yang dilakukan oleh Wajib-Pajak dengan sistem pembukuan berbasis akrual.

Dengan mengetahui efek dari khususnya current accruals terhadap Penghasilan Kena Pajak secara ex-ante -sebelum kejadian atau dibelakukannya ketentuan perundang-undangan perpajakan, standar atau metode akuntansi yang baru, manajemen bisa berbuat sesuatu untuk menghemat pajak dalam tahun pajak berjalan dan tahun-tahun pajak berikutnya. Memang tidak setiap perusahaan sebagai Wajib-Pajak bisa memperoleh manfaat sebagai akibat dari adanya perubahan peraturan perundang-undangan perpajakan, standar atau metode akuntansi yang akan diberlakukan. Proporsi atau jumlah relatif dari efek current accruals di dalam Penghasilan Kena Pajak mempengaruhi besar-kecilnya manfaat pajak yang bisa didapat oleh Wajib-Pajak. Demikian pula tenggang waktu antara tanggal pengumuman dan tanggal efektif pemberlakuan ketentuan-ketentuan pajak, standar, dan metode akuntansi yang baru; juga sangat mempengaruhi besar-kecilnya manfaat atau penghematan pajak yang dapat direalisasikan oleh setiap Wajib-Pajak.

Wajib-Pajak Dengan Sistem Pembukuan Berdasar Stelsel Kas

Sistem pembukuan berbasis kas (cash basis accounting) mengutamakan obyektivitas pengakuan dan pengukuran dan/atau penilaian serta pelaporan efek transaksi terhadap elemen-elemen laporan keuangan. Dari perspektif obyektivitasnya, transaksi penerimaan dan pengeluaran kas tidak perlu diragukan. Di samping obyektivitas pengakuan dan pengukuran efek transaksi, sistem pembukuan berdasar stelsel kas, pada umumnya lebih sesuai atau konsisten dengan asumsi kemampuan untuk membayar (paying ability) dari Wajib-Pajak. Hal ini benar adanya, apabila: (i) setiap transaksi yang berakibat pada pemerolehan pendapatan dan terjadinya biaya selalu bersamaan waktunya dengan penerimaan dan pengeluaran kasnya; dan (ii) penerimaan dan pengeluaran kas dilakukan dalam bentuk uang tunai (uang kertas, uang logam). Sayangnya, dunia bisnis moderen dewasa ini menunjukkan tendensi semakin berkurangnya proporsi transaksi penerimaan dan/atau pembayaran yang dilakukan dalam bentuk uang kontan. Oleh karena itu, dalam beberapa hal Wajib-Pajak yang menggunakan sistem pembukuan berdasar stelsel kas juga dihadap-kan dua masalah krusial (pengakuan dan pengukuran) di dalam menentukan Penghasilan Kena Pajaknya; terutama apabila transaksi penerimaan dan/atau pengeluaran kas tidak dilakukan dalam bentuk uang kontan, tetapi dalam bentuk seperti misalnya: kartu kredit, bilyet, wesel, aksep, promes, pembayaran dengan dana berasal dari pinjaman, pembayaran secara angsuran. Namun justru kondisi demikian itu membuka peluang bagi manajemen pada perusahaan yang menggunakan sistem pembukuan berdasar stelsel kas untuk dapat melakukan earnings management.

(1)Penjualan dengan pembayaran melalui Kartu Kredit (Credit Card Sales).

Transaksi penjualan dengan pembayaran melalui kartu kredit ada yang seharusnya diperlakukan seperti halnya transaksi penjualan secara kredit yang masih diperlukan waktu untuk merealisasikan pendapatan yang berasal dari hasil penjualan itu menjadi kas, dan ada yang seharusnya diperlakukan sama seperti halnya transaksi penjualan tunai. Penerimaan pembayaran melalui kartu kredit yang diterbitkan oleh perusahaan kartu kredit, seperti: AMEX, Dinners Club tidak dapat disamakan dengan kas. Untuk merealisasikan pendapatan dari hasil penjualan tersebut harus menyerahkan atau mengirimkan nota-nota penjualan kartu kredit (credit cards receipts) kepada perusahaan penerbit kartu kredit (selanjutnya disebut kartu kredit tipe-1). Masih diperlukannya upaya dan waktu untuk menguangkan hasil penjualan sebagai pendapatan (dan mengakui kos barang dijual sebagai biaya fiskal) atas transaksi penjualan dengan pembayaran melalui kartu kredit tipe-1 ini; terbuka peluang bagi manajemen untuk melakukan earnings management.Sedang untuk penerimaan pembayaran melalui kartu kredit, seperti misalnya: VISA Card, Master Card, dan kartu-kartu kredit yang dikelola oleh bank-bank komersial pada umumnya (seringkali bukan kartu kredit tetapi kartu debit) dapat diperlakukan sama seperti halnya kas (selanjutnya disebut kartu kredit tipe-2). Untuk merealisasikan pendapatan dari hasil penjualan dengan pembayaran melalui kartu kredit tipe-2 menjadi uang atau kas, perusahaan bisa secara langsung menyerahkan nota-nota penjualan kartu kredit tersebut sebagai setoran ke rekening gironya di bank pengelola kartu kredit. Dalam kondisi demikian, praktis tertutup atau tidak ada peluangbagi manajemen untuk melakukan earnings management.

(2) Pembayaran dalam bentuk Cek dan/atau Giro-Bilyet.

Penerimaan atau pembayaran yang dilakukan dalam bentuk cek atau giro-bilyet harus diakui sebagaipenerimaan dan/atau pengeluaran kas (sebagai rekening lawan kredit pendapatan atau rekening lawan debit biaya), pada saat terjadinya penyerahan cek atau giro-bilyet, dan tidak pada saat cek atau giro-bilyet diuangkan atau disetor ke rekening giro di bank, kecuali untuk: (i) cek atau bilyet bertanggal mundur, dan (ii) cek atau bilyet kosong –tidaktersedia cukup dana (not sufficient fund/NSF-Cheque) pada saat diuangkan atau diserahkan ke bank sebagai setoranke dalam rekening giro perusahaan. Penundaan atau percepatan penyerahan cek/giro bilyet kepada pihak yang seharusnya menerima pembayaran (payee), dengan tidak lagi mengakuinya sebagai cash in bank adalah salah satu teknik yang dapat dipakai untuk mempercepat dan/atau menunda pengakuan penghasilan.

(3)Pembayaran dalam bentuk Wesel, Aksep, Promes (Commercial Papers).

Pembayaran dalam bentuk wesel, aksep, atau promes (commercial papers) diakui sebagai penerimaan dan/atau pengeluaran kas, pada tanggal jatuh tempo atau pada saat wesel, aksep, atau promes dibayar; dan tidak pada saat wesel, aksep, atau promes diterbitkan atau diserahkan kepada pihak penerima pembayaran (payee). Pada hal secara substantif, dengan diterbitkannya commercial papers tersebut kewajiban untuk membayar atau memperoleh pembayaran praktis sudah terselesaikan, meskipun biasanya diikuti oleh adanya konsekuensi imbalan berupa bunga.

(4)Pembayaran berasal dari dana pinjama bank.

Pembayaran dengan dana berasal dari pinjaman bank (didebit atau dikredit langsung ke rekening giro di bank) harus diakui sebagai penerimaan atau pengeluaran kas pada saat terjadinya transaksi pembayaran, dan tidak pada saat diperolehnya pinjaman dari bank. Sebagaimana halnya pembayaran dalam bentuk cek atau giro-bilyet, peluang untuk mempercepat dan/atau menunda pengakuan penghasilan dapat dilakukan dengan tidak menunda penyerahan permintaan kepada bank untuk mendebit atau mengkredit rekening gironya di bank.

(5)Pembayaran secara angsuran.

Pembayaran secara angsuran biasanya membawa konsekuensi untuk harus disediakannya imbalan berupa bunga. Earnings management dapat dilakukan dengan mendesain tipe transaksi dan termin atau tanggal jatuh temponya pembayaran angsuran.

3 thoughts on “Manajemen Laba

  1. sy sedang meneliti ttg manajemen laba, tadinya untk menghitung discretionary accrual menggunakan model modifikasi jones..kemudian dosen sy menganjurkan menggunakan current accrual..
    yg sy tanyakan adalah bisa tidak manajemen laba dihitung dg current accruals dan rumusnya bagaimana?trimakasih

    Like

    1. maaf mba Rina, saya sekarang tengah melakukan penelitian tentang manajemen laba, awalnya saya juga menggunakan model jones, tapi saya masih bingung,, mengenai penelitian mba, akhirnya model apa yang digunakan?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s