Posted in Akuntansi, Manajemen

Definisi Fraud (Kecurangan)

Fraud (kecurangan) merupakan istilah yang sering kita dengar sehari-hari, namun secara definisi masih belum banyak yang mengetahui tentang fraud (kecurangan).

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia no 13/28/DPNP tanggal 09 Desember 2011, fraud (kecurangan) adalah tindakan penyimpangan atau pembiaran yang sengaja dilakukan untuk mengelabui, menipu atau memanipulasi bank, nasabah, atau pihak lain, yang terjadi di lingkungan Bank dan/atau menggunakan sarana Bank sehingga mengakibatkan bank, nasabah, atau pihak lain menderita kerugian dan/atau pelaku fraud (kecurangan) memperoleh keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut James Hall (2011), Fraud (kecurangan) merupakan kesalahan penyajian dari fakta material yang dibuat oleh salah satu pihak ke pihak yang lain dengan niatan untuk menipu dan menyebabkan pihak lain yang mengandalkan fakta tersebut mengalami kerugian. Secara umum aktivitas fraud (kecurangan) mencakup lima kondisi berikut:

  1. Penyajian yang keliru (false representation), pasti ada penyajian yang keliru atau kurang lengkap dalam pengungkapan
  2. Fakta material (material fact), fakta merupakan hal yang substansial yang mendorong seseorang untuk berbuat
  3. Niat (intent), selalu ada niat untuk mengarahkan ke hal yang keliru (deceive)
  4. Pengkhianatan kepercayaan (justifiable reliance), penyajian yang salah terhadap faktor substansial yang diandalkan oleh pihak yang dirugikan
  5. Kerugian (injury or loss), penipuan yang telah dilakukan mengakibatkan kerugian pada korban

Sementara itu di dunia bisnis fraud (kecurangan) mempunyai makna yang lebih spesifik, yaitu penipuan dengan niat, penyalahgunaan aset perusahaan, atau manipulasi data keuangan untuk kepentingan pelaku. Pada literatur akuntansi, fraud (kecurangan) juga disebut kejahatan tingkat atas (white-collar crime), penyalahgunaan kepercayaan, penggelapan, dan penyimpangan. Karena perbedaan implikasi fraud (kecurangan) terhadap auditor, maka auditor menggolongkan fraud (kecurangan) menjadi dua tingkatan yaitu fraud oleh karyawan (employee fraud) dan fraud oleh manajemen (management fraud).

Fraud oleh karyawan (Employee Fraud )

Atau bisa juga disebut fraud (kecurangan) yang dilakukan oleh karyawan non manajemen mempunyai tujuan langsung mengubah kas atau aset lain demi keuntungan karyawan pribadi. Biasanya karyawan memanfaatkan celah yang ada pada sistem pengendalian internal demi keuntungan pribadi, namun jika perusahaan memiliki pengendalian internal yang bagus maka penyalahgunaan kepercayaan dan penggelapan dapat dicegah atau diminimalisir. Fraud oleh karyawan biasanya melalui tiga tahap berikut (1) Mencuri aset yang mempunyai nilai (2) Mengubah aset menjadi bentuk yang mudah ditukarkan (kas), lalu (3) menutupi kejahatan agar tidak mudah terungkap atau menghindari deteksi, langkah ketiga merupakan langkah yang paling sulit seperti contohnya lebih mudah melakukan pencurian terhadap persediaan barang dagang namun sangat sulit untuk mengubah catatan-catatan yang berkaitan dengan persediaan barang dagang (kartu persediaan, catatan penerimaan barang, daftar catatan utang)

 

Fraud oleh manajemen (Management Fraud)

Dampak yang ditimbulkan jauh lebih berbahaya dibanding fraud (kecurangan) yang dilakukan oleh karyawan, karena bisa jadi fraud (kecurangan) yang dilakukan tidak terdeteksi hingga perusahaan mengalami kerugian parah atau kerusakan yang fatal. Fraud yang dilakukan oleh manajemen terkadang tidak melibatkan pencurian aset secara langsung, manajemen puncak (top management) bisa saja melakukan kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan harga saham perusahaan di pasar demi memenuhi permintaan para pemegang saham atau mengambil keuntungan dari kepemilikan saham untuk memperolah bonus lebih dengan cara menggembungkan pendapatan atau menunda kebangkrutan atau menunda pengakuan penurunan pendapatan. Aktivitas fraud (kecurangan) manajemen tingkat bawah aktivitas biasanya melibatkan kekeliruan penyajian data keuangan atau data internal untuk memperoleh kompensasi, melancarkan promosi jabatan, atau menghindari penalti atas performa yang kurang. Fraud yang dilakukan manajemen biasanya melibatkan tiga hal berikut:

  1. Aktivitas fraud (kecurangan) biasanya dilakukan pada manajemen tingkat yang lebih tinggi, terutama pada tingkat manajemen yang mempunyai struktur pengendalian internal sama atau mirip.
  2. Aktivitas fraud (kecurangan) biasanya melibatkan penggunaan pelaporan keuangan untuk menciptakan ilusi bahwa perusahaan lebih sehat dan mempunyai potensi lebih dibandingkan faktanya.
  3. Jika aktivitas fraud (kecurangan) melibatkan penyalahgunaan aset, biasanya disamarkan melalui aktivitas atau transaksi bisnis yang kompleks, dan terkadang melibatkan pihak ketiga.

Mengacu pada tiga hal tersebut, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa fraud yang dilakukan oleh manajemen dapat melampaui struktur pengendalian internal efektif yang dapat mencegah fraud yang dilakukan oleh karyawan.

 

Segitiga Fraud (Fraud Triangle)

Segitiga fraud biasanya terdiri dari tiga faktor yang berkontribusi kepada atau yang berhubungan dengan fraud (kecurangan) yang dilakukan oleh manajemen atau yang dilakukan oleh karyawan, yaitu:

  1. Tekanan situasi (situational pressure), termasuk individu ataupun yang berhubungan dengan pekerjaan sehingga memaksa individu bertindak tidak jujur.
  2. Kesempatan (opportunity), termasuk akses langsung terhadap aset dan atau akses terhadap informasi yang mengendalikan aset
  3. Etika (ethics), berkaitan dengan karakter dan tingkat moral seseorang yang menekan tindakan tidak jujur atau merugikan

Berikut adalah bentuk gambaran dari kejadian yang mengakibatkan fraud (kecurangan) berdasar pada fraud triangle:

fraud-triangle-james-hall

Gambar tersebut menunjukkan bahwa ketika etika tinggi, tekanan dan kesempatan fraud (kecurangan) rendah maka kemungkinan terjadinya fraud (kecurangan) akan semakin rendah, namun sebaliknya jika tekanan dan kesempatan semakin tinggi kemudian etika rendah maka kemungkinan terjadinya fraud (kecurangan) akan semakin besar. Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan oleh auditor untuk mewaspadai terjadinya fraud (kecurangan) pada perusahaan umumnya seperti berikut:

  1. Apakah pemegang otoritas (key executive) mempunyai utang individu yang tinggi?
  2. Apakah pemegang otoritas (key executive) mempunyai gaya hidup melebihi pendapatannya?
  3. Apakah pemegang otoritas (key executive) mempunyai kebiasaan berjudi?
  4. Apakah pemegang otoritas (key executive) mempunyai keterlibatan dalam penyalahgunaan alkoho atau obat-obatan terlarang?
  5. Apakah ada dari para pemegang otoritas (key executive) mempunyai kode etik yang rendah?
  6. Apakah keadaan ekonomi tidak menunjang untuk industri perusahaan?
  7. Apakah perusahaan menyimpan rekening pada berbagai bank, dan dari semuanya tidak ada yang menggambarkan keadaan keuangan perusahaan?
  8. Apakah ada dari pemegang otoritas (key executive) mempunyai kedekatan relasi dengan pemasok?
  9. Apakah perusahaan mengalami tingkat pergantian karyawan penting yang tinggi, baik melalui pemberhentian atau pengunduran diri?
  10. Apakah ada satu atau dua orang mendominasi keputusan perusahaan

Hasil dari jawaban pertanyaan diatas menunjukkan bahwa auditor mungkin memerlukan pemeriksaan profesional lebih lanjut untuk mempelajari dan melakukan pengecekan latar belakang secara rahasia pada manajer kunci dari perusahaan klien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s